Peranan Empu Kuturan Dalam Perubahan Di Bali

Maharsi yang terkenal di kerajaan airlangga, yaitu Mpu Bharadah dan Empu Kuturan. Kedua Empu ini telah menawarkan sebuah jalan tengah bagi berbagai pandangan agama ketika itu. Mpu Bharadah dalam karyanya Calon Arang, mengajarkan perpaduan antara jalan duniawi (gelap) dan jalan spiritual ( terang). Dua ajaran ini ditarik ke tengah oleh Empu Bharadah sehingga menjadi tidak terlalu ekstrim. Pengusung jalan duniawi juga di harapkan memeperhatikan kehidupan spiritual. Sebab tanpa kehidupan ini, mereka tidak akan menemukan kebahagiaan. Demikian juga mereka yang menempuh jalan spiritual, mesti memeperhatikan kehidupan duniawi.

Sementara Empu Bharadha berkutat dengan teologi jalan tengah, Mpu Kuturan justru turun ketengah-tengah masyarakat beliau mempraktekkan jalan tengah (madyatmika) tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kebetulan ketika itu, jawa-bali merupakan sebuah kerajaan bersaudara. Kerajaan jawa dipimpin oleh Airlangga, putra Udayana Warmadewa yang menjadi raja di Bali. Karena itu, beliau mudah mendapatkan tempat terhormat di bali., untuk kehidupan masyarakat bali yang konon belum tenang ketika itu. Akhirnya, beliau datang ke Bali pada Buda Kliwon Pahang 923 caka.

Ketika itu, masyarakat bali, menurut penelitian para ahli terdiri dari 6 sekte, yaiti sekte Sambu, Brahma, Indra, Wisnu, Bayu, dan Kala. Penggolongan 6 sekte ini sebenarnya diambil dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali dalam ritual pada masa kini, yang memiliki berbagai cirri khas ritual tersebut. Berdasarkan berbagai ciriritual tersebut, para ahli kemudian mengelompokkan enam sekte-sekte tersebut antara lain sebagai berikut;

  1. sekte Sambu misalnya bercirikan pada penyembahan arca, ketika mati mereka diupacarai dengan daun pepetan ketan sebagai sarana pembersihan mayat. Mayat harus ditanam seketika.
  2. sekte Brahma, menyembah Ida Sshang Yang Surya/ Ida Shang Yang Agni. Penganut sekte ini menggunakan air delima sebagai pembersih mayat. Mayat penganut sekte ini dibakar.
  3. sekte Indra, penganut menggunakan gunung dan bulan sebagai stana dewa. Penganut sekte ini menggunakan air beras untuk memebersihkan mayat. Mayat penganut sekte ini ditanam di jurang yang berisi goa.
  4. sekte Wisnu, penganut biasanya memiliki tradisi upacara meminta hujan. Mayat penganut sekte ini biasanya dibersihkan dengan iar yang berisi bunga-bungaan. Abu jenazah penganut sekte ini dihanyutkan ke sungai atau samudra.
  5. sekte Bayu, penganutnya memandang angina dan bintang sebagai cirri-ciri kehadiran dewa pujaannya. Mereka biasanya menggunakan air hujan sebagai sarana pembersihan mayat. Mayat penganut sekte ini ditaruh begitu saja di sebuah tempat hingga hancur oleh angin. Penganutnya hingga kini masih terdapat di desa Trunyan-kintamani.
  6. sekte Kala, penganut sekte ini sangat banyak di Bali. Pemujaan terhadap ratu geda mecaling dan sejenisnya merupakan peningggalan sekte ini. Mereka biasanya menggunakan daun bidara dalam upacara kematiannya.

Sekte-sekte ini sebenarnya masih bisa ditambah dengan berbagai kepercayaan lain yang tumbuh dan berkembang ketika itu. Harus diakui, sebagian masyarakat bali ada yang menganut budisme ketika itu. Sehingga sebenarnya secara umum, terdapat tiga kepercayaan besar berkembang pada masa itu. Yaitu, Hindu, Budha dan kepercayaan lokal. Mpu Kuturan kemudian mengadakan pertemuan untuk mencari titik temu dari tiga kepercayaan tersebut. Pertemuan tersebut terkenal dengan Samuan Tiga .pada pertemuan ini, semua ahli-ahli agama datang. Mereka semua membawa pesan inti dari agama mereka masing-masing. Inti dari ajaran ini kemudian dikembangkan Mpu Kuturan menjadi Tri Khayangan, yaitu Puseh, Bale Agung dan Dalem.

Secara umum, umat hindu di bali mengenal Tri Khayangan ini sebagi tempat pemujaan Brahma, Wisnu dan Siwa. Pura Puseh disebutkan sebagai sthana Wisni, Bale Agung sebagai sthana Brahma sedangkan Dalem sebagai sthana Siwa. Pada kenyataannya konsep ini tidaklah 100 persen benar. Konsep ini hanya reka-reka dari seorang ahli agam yang termuat dalam upadeca yang pikirannya dipengaruhi oleh Shiva Shidanta. Ada konsep yang lebih mendalam, yang belum tertangkap dalam upadeca tersebut, yaitu konsep penyatuan berbagai teologi.

Tri Khayangan tersebut merupakan penyatuan berbagai teologi yang berkembang abad ke 10 masehi. Pada zaman Empu Kuturan, paling sedikit ada tiga teologi yang berkembang. Yaitu teologi pantheisme monotheisme, dianut oleh para pengikut Shiwa dan Waisnawa, terdapat juga teologi Polytheisme yang dianut pengusung kepercayaan lokal dan terdapat juga pengikut sakta (pemuja terhadap sakti atau energi penyebab alam semesta). Semua konsep ini disatukan oleh Empu Kuturan dalam Tri Khayangan.

Di Pura Puseh, Empu Kuturan memberikan ruang bagi penganut monotheisme. Kata puseh berarti pusat. Secara luas pusat dimaksudka adalah pusat dunia. Pusat dunia hanya satu yaitu Shang Hyang Widhi. Beliau juga disebut Shang Hyang Trydosasakti. Sementara Bale Agung mengandung makna balai panjang. Balai panjang adalah tempatpertemuan. Di bale ini, semua dewa-dewa pujaan di stanakan. Karena itu penganut jonsep pholitheisme mendapat tempat di bale agung. Pura Dalem, atau lebih dikenal dengan nama Dalem adalah tempat memuja Dewi Dhurga (sakti). pada pura ini, penganut sakta mendapat tempat. Karena itu, semua konsep ketuhanan yang telah tertampung dalam Tri Khayangan ini.

Konsep Budha memeng tidak dapat tempat kedalam konsep ini. Namun secara fhilosofis, Budhisma sesungguhnya tidak memerlikan tempat suci. Sebab inti Budhisma bukaan pemujaan, namun pelatihan-pelatihan untuk mengubah prilaku diri sendiri. Karena itu, pura bagi pengikut sang Budha adalah didrinya sendiri. Para pengikut Budha tidak memerlukakn tempat suci, meskopun memeng ada pengikut Budha yang masih memerlulan tempat suci. Mereka diberi kebesan untuk memebangun tempat suci untuk dewa pujaannya dirumanya masing-masing.

Keseluruhan konsep ini dikembangkan kedalam sebuah tatanan yang disebut Pakraman. Tatanan ini mengikat seluruh warga yang dada di dalam Pekraman. Sehingga semua sekte atau aliran pemikiran tersebut melebur ke dalam Pakraman. Pada sekitar abad ke 15 masehi, peleburan ini tekah mencapai pada titik sempurna. Dhangyang Dwijendra pada sekitar abad tersebut, hanya menemui sekte-sekte seperti terdapat dalam kelompok-kelompok elite para brahmana, seperti brahmana Waisnawa,  Shiwa dan Budha. Sementara masyarakat bali sendiri telah terlebur ke dalam Pakraman. Siapa pun tidak bisa membedakan sekte-sekte mereka. Walau pun mereka menganut sebuah sekte tertentu. Sifatnya sangat pribadi. Tak perlu diumumkan di tengah-tengah masyarakat luas.

Iklan

Tentang tombongopini

fun,,, santai... ganteng bagi yang bisa liat..heheheee
Pos ini dipublikasikan di budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s